Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

menuju tamat

    apa kabar kamu yang ahli beranjak setelah banyak merekam jejak.   kita; bahkan belum benar-benar dimulai-   mengecap momen yang tak pernah jadi komitmen;  telah berjalan terlampau jauh; menambat sauh rindu di dasar lara itupun sia-sia sebab aku enggan mengacau renjana yang bertaut atau ruang hitam dibalik netramu. lihat! kata maafmu; selalu terdengar semu, untuk kesekian hadir yang singkat namun menancapkan luka yang pekat   Sebelum sebuah lupa, kita pernah bersama tertambat, sebelum penat membuat kita tamat.  sebuah simpul pemisah masih coba aku urai atas dasar mengasihi yang teramat sangat;   ataukah ini waktu ku untuk mendulang kata “kita sudah cukup?"

adalah

Adalah bertepuk sebelah tangan; kenyataan yang harus aku papah, Adalah mencintai sendiri, setelah bertahun-tahun bertahan, Adalah kamu, atau tidak siapapun. Alasan; ketika orang lain bertanya mengapa aku masih mengasihi orang yang sama.  Sebab; Mengasihimu terlalu banyak melebihi yang aku rencanakan; Membencimu terlalu sedikit melebihi apa yang aku mampu laksanakan. 

Titik Cukup

Katakan bagaimana aku mengikhlaskanmu, sementara kau masih bebas beradu detak bersama nadiku,  beribu-ribu diksi tertulis, beratus-ratusnya dijeda oleh rindu yang tak tertolong;  Katakan bagaimana aku merelakanmu sementara lara  disemai sebagai renjana dalam benak;  dengan juntai yang tersisa aku  membenahi perasaanku yang luntung lantang di sergap abai-mu Katakan bagaimana aku melupakanmu, sedang kamu masih mampir dalam mimpi semalam. Katakan bagaimana aku sekarang?  Aku;  diantara asa yang masih ada dan upaya untuk berhenti di titik cukup. -yvn

Tahun repetisi

Ratusan purnama aku lewati bersama pergulatan rasa yang hampir patah dalam sembilu; Mencoba menghitung sudut- sudut logika yang dapat menghalau setiap debar rindu; Ternyata waktu tak pernah mampu mengilhamiku untuk melupakanmu. Dahulu kamu sendiri yang secara sengaja membuatku menemukanmu; sekarang, kamu sendiri secara tega membuat aku harus terbiasa tanpamu seperti dulu. Berulang kali berpikir untuk pergi, berulang kali pun aku lari kembali  Kepada segenggam keyakinan akan berbalas dua kali;                Setiap hari terjebak diantara repetisi mencintaimu dan usaha mengeluarkanmu dari isi kepalaku.  26 juni