Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Kamu

Kepada kamu yang mampu membuat isi permintaan dalam doaku berubah dari diriku, keluarga-ku, cita-citaku, ambisi-ku bertambah menjadi kamu. Kamu, kesehatanmu, kebahagiaanmu, harapanmu,    cita-cita-mu, keluarga-mu serta berharap kamu yang mencintaiku sebanyak aku menginginkanmu; sekarang ini.  Dan memohonkan nama-mu untuk kesekian kalinya menjadi bagian dalam hari-ku padaNya. Dalam kali kedua ini, kamu masih sama seperti orang yang mencuri detak jantungku seperti dulu, lebih cepat dari sebelumnya. Semakin dalam aku menggali pertanyaan mengapa, semakin aku dapati bahwa cinta adalah satu-satunya jawaban.  Kepada kamu, yang pernah menjadi penyebab lagu-lagu romantis terdengar memuakkan. Dan kepada kamu yang sekarang menjadi penyebab lagu-lagu cinta terdengar manis dan terasa mengiris di rongga dada;  Berdiri diantara ketakutan mengetahui sebanyak ini aku mencintaimu, dan sebanyak ini aku takut kehilanganmu. Lagi. 
Kau yang riuh di dalam dada; menjadi paling sepi dalam tanya Mengalir diantara sekat-sekat lara Memangkas detik demi detik menjadi memori degup;  Kita menjelma ragu-ragu; seakan yang patah tak dapat tumbuh Dan rindu sudah kepalang menjadi hal tabu. Kita terlambat tertambat Kita terhambat merambat Tapi kau meraup habis degup yang kuseduh; Aku tercekat; tapi tetap kunikmati netramu  Menemukanmu di dalam kepala paling sesak;  Sedang aku bergeming dan membendung asa Yang sedari kemarin dipiutangi diksi-diksi rindu Mempecundangi berlaksa-laksa rasa yang ingin beranjak. Ada bising yang harus kuleburkan; Sebab hadirmu begitu pandai membekukan perasaan. C.
Ketiadaanmu ialah elegi diantara celah ketidakwarasan dan titik temu yang sengaja direpetisi semesta. riuh rindu yang bertandang malam ini membawa serta bayangmu yang sudah aku ragukan keabadiannya. ah. aku lupa, aku benar-benar seorang pelupa yang pura-pura. 'yvn

Nadir

Telah mencintaimu, pada ritme awal temu Sudah merindukan-mu pada detik akhir pelukanmu Terus mencintai hingga di kata terakhir, aku menulis ini. Saat langit terbuka dengan suam-suam kuku Seperti hatiku saat ingin mencoba beralih dari-mu. Sejak sepersekian detik menelusuk lembayung luka yang lalu, Mengeja bagiku sebuah ketidakmungkinan Yang aku artikan sebagai " kita " Adalah titik nadirku saat aku harus lantang mengeja, " aku harus menyudahi kita segera" -yvn
Ada pola yang terus mengitari pikiranku Antara masih adakah atau memang masih ada Untuk hari ini setiap batas waktu yang merajuk Mengenang semua diantara jejak musim lalu Ku kira, aku telah menang dalam pergulatan rindu dari menepikanmu. Aku keliru. Ribuan repetisi rindu yang dibelenggu, Lepas, bebas dalam satu kali hela napas sapamu. Jelaga amarah dan residu rindu seolah pias oleh satu sapuan mata-mu. Malam telah begitu larut sementara kau terus teraduk dalam inti jantungku Lalu sambil merayu-rayu semesta. Memetakkan setiap sudut wajahmu dalam ingat. -yvn

BLW

Langit memisahkan rindu dari temu Saat aku menyukaimu senja di pelupuk matamu serta aku yang sedang mencintaimu. sejak sore tadi, aku sudah tahu kita ini apa. sampai malam ini, aku belum tahu kita harus bagaimana?

Aroma Senja

Melihat langit penuh emas aku bersenandung; Mencemaskan rindu yang sudah aku tabung, awan beserta bumi membuat getaran dalam hati bersekongkol memecahkanmu bersama aroma senja aku perlu salinan wajahmu yang ku simpan di sela-sela ingat; aku melakukannya dengan giat. terus dan terus mengingat tanpa tamat. jangan bertanya mengapa? kelak, kau akan tahu...