Kau yang riuh di dalam dada; menjadi paling sepi dalam tanya
Mengalir diantara sekat-sekat lara
Memangkas detik demi detik menjadi memori degup;
Kita menjelma ragu-ragu; seakan yang patah tak dapat tumbuh
Dan rindu sudah kepalang menjadi hal tabu.
Kita terlambat tertambat
Kita terhambat merambat
Tapi kau meraup habis degup yang kuseduh;
Aku tercekat; tapi tetap kunikmati netramu
Menemukanmu di dalam kepala paling sesak;
Sedang aku bergeming dan membendung asa
Yang sedari kemarin dipiutangi diksi-diksi rindu
Mempecundangi berlaksa-laksa rasa yang ingin beranjak.
Ada bising yang harus kuleburkan;
Sebab hadirmu begitu pandai membekukan perasaan.
C.
Komentar
Posting Komentar