kita dan sebagian orang itu
mula-mula mencintai dengan keras kepala
tanpa tahu porak-poranda akan melanda;
kita dan seseorang itu
malu-malu mengakui adanya alkisah kekasih
akhirnya, terkejut ternyata dapat menjadi basi
berdua menjadi paling jatuh hati
kemudian saling menghunuskan belati.
katanya, cinta akan saling menemukan;
lantas, bagaimana jika semesta tak pernah memberi pilihan?
kita bergulir, menelusuri ketetapan sang Tuhan;
saling mengedarkan suar rindu pada jejak kenangan
hebat juga kita sebab dapat menyatukan irisan tuan-puan.
kita, dua orang pelaku utama;
terengah-engah menyangkal hujan di kedua sudut netra
memuntahkan berbagai rasa yang pernah setara;
masing-masing berlomba menjadi ahli pemberi lara
kita dan satu orang itu
benar-benar terbengkalai memaknai alur ilahi
berdarah-darah sedikit lalu banyak hinggai usai
bergegas cepat pergi sebelum kalah bertaruh dalam saling abai
menanyai siapa tuan rumah dan siapa yang akan paling lirih bernyanyi.
kita dan hampir semua orang
menanami hidup dengan dua rasa;
ragu di antara raga dan asa di dalam sukma
menyiangi beberapa angin pujaan hati
namun tuaian hanyalah badai pembenci elegi
kemudian, perang telah selesai.
Lagi
BalasHapus