malam selalu begitu ngeri tersaji di atas meja
sebagai santapan, kau lihat elegi selalu jadi menu andalan- begitu nikmat rasa kenangan;
sampai lupa diri dan duri bernama tulang mengulang.
kau bergumam tegas pada dirimu yang di dalam;
jadi, kau rupanya masih salah merasa?
keliru antara ingin mengenang atau butuh mengulang.
jika dia memang rumah, harusnya sekarang kamu bisa pulang, bukannya duduk sendiri merepetisi lara yang terlarang.
jangan kau rawat sebuah museum dingin untuk dijadikan hunian hangat;
hentikan berjudi pada harapan yang selalu dikalikan dengan angka nol; oleh dia yang kau taruh nilai tak terhingga.
-
Komentar
Posting Komentar