Langsung ke konten utama

Kesia-siaan adalah kesia-siaan.


malam selalu begitu ngeri tersaji di atas meja

sebagai santapan, kau lihat elegi selalu jadi menu andalan- begitu nikmat rasa kenangan;

sampai lupa diri dan duri bernama tulang mengulang.

kau bergumam tegas pada dirimu yang di dalam;

jadi, kau rupanya masih salah merasa? 

keliru antara ingin mengenang atau butuh mengulang.

jika dia memang rumah, harusnya sekarang kamu bisa pulang, bukannya duduk sendiri merepetisi lara yang terlarang. 

jangan kau rawat sebuah museum dingin untuk dijadikan hunian hangat;

hentikan berjudi pada harapan yang selalu dikalikan dengan angka nol; oleh dia yang kau taruh nilai tak terhingga. 

-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.