Langsung ke konten utama

drama satu babak

 

 Aku; rumpang 

yang bersorak sorai dalam lara padahal sedang meramu badai

dari orang kepada orang tak terhitung sudah landai abai

atau waktu yang terus menguliti kebenaran lampau

memisahkan semua halaman yang sudah terasa payau

menghindari risau rindu dan rasio  bertemu pada satu pintu


Kau; bunyi

yang tak pernah meninggalkanku sunyi sepi

yang masih percaya dan mendamba aku manusia puisi

ketika hati sudah mati rebah dalam kalkulasi.

 

ya, satu lagi tapi kesekian babak,

satu lagi lalu lagi dan lagi aku terkunci terbahak

suaramu hingar bingar pasar malam

aku ingin bermain, tak ingin pulang.

telingamu; berbincang denganmu, menemukanku.



Komentar

Posting Komentar