Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Usaha dagang

  perihal sebuah malam yang gagal menjadi pekat; demikian pula tentang melupakanmu, sahabat.  sebab cahaya bulan pada netramu amat lekat; dekat bersekongkol dengan angin meracau tentang masa lampau.  perihal percobaan melupakan dan ajang sandiwara rasa; siapa yang mencoba jadi bintang atau bunga? latih berlatih membelakangi sampai saling letih. adu, saling beradu antara merelakan atau kembali pulang percobaan berganti nama jadi pencobaan;  terasa begitu menusuk, mencintai sebagai rusuk yang dipatahkan; jahit, menjahit satu-persatu bilur yang disebabkan-nya. terjebak, dijebak dalam satu episode pusaranmu semua daya habis terpikat oleh harap balasan tepuk tangan di hatimu; akan tetapi sobat, hidup selalu mencoba membereskan badai setiap kali kau membingkaiku; dalam setiap temu lalu temu, coba kau lihat lebih dalam! ya, disitu; tepat. di ruang melupakan itu, kita akan tahu; apakah itu sebuah usaha atau khayalan?

Residu

Ada yang berputar-putar dalam pikirku antara masih ada atau memang masih ada? untuk hari ini dan setiap batas waktu temu aku mengenang, tenggelam pada rona wajahmu ku kira aku telah menang dalam pergulatan rindu aku membiru keliru, berperang dan menjegal; adalah sebuah usaha menepikan tinggalmu  lalu apa kemudian? ribuan hari aku berdendang sendiri  dalam rehat akan penat, kau datang sebagai rumah padahal itu ilusi memori lampau yang sudah jadi remah;  melarutkan jelaga amarah dan residu rindu yang sisa apa yang salah? siapa yang kalah? waktu dan rahasia restu semesta? ataukah malam yang telah larut  sementara kau terus bergejolak di tengah jantung? sambil merayu-rayu semesta; aku dan diammu menikmatimu; merasakan semilir angin di sela-sela jariku. lalu memetakan wajahmu di setiap sudut ingatan kita belum benar-benar sia-sia, tuan.

kisanak

... menggenggammu ialah cara perih-perih diredam memelukmu ternyata meretas dendam  meranggas dukacita dan melenyapkan jarak melipat rindu jadi kepulangan yang marak rupanya setiap sudut laraku dijejali oleh kau, kisanak   dalam pertandingan melepaskan, selalu aku kalah telak sia-sia aku berlari di jalan rahasia; kau selalu berhasil menemukanku menatapmu; mujarab dalam menenangkan pilu lantas bagaimana aku memaknai aku, sedang keakuanku perlahan luntur bersamamu? ...

El Shaddai

dari semula telah tertaut; tak pernah gagal atau risau sekalipun aku berlari lalu lesu setengah saja perhentian sebab terhanyut padahal sedekat nadi; Kau selalu berdenyut dalang dari semua tenang dari langit menuju langit terus saja Dia menyediakan lihat! sudah penuh kedua tanganku kemudian, berbagi terasa meriah.

Renjana

Selamat datang kembali residu rasa yang lampau Antik lentik memecut sudut rindu yang lalu Ranum begitu cepat tanpa menyisahkan ragu  Singgah atau sungguh aku tak mau tahu dulu  Sebab telah menjelma menjadi titik renjana Aku menjura; membilang sajak dan karsa Kepada sang Maha cinta aku bercerita Tentangmu dan kita apakah niskala saja? Kau, aku menyatu menjadi titik temu Harap serah di dalam ruang tunggu Di mana kekasihku ?  Berdenyut-denyut kau di dalam benakku Akankah berbuah lara atau perhentian tiada tara? Adalah yang kedua sudah menjadi doa. 

drama satu babak

   Aku; rumpang  yang bersorak sorai dalam lara padahal sedang meramu badai dari orang kepada orang tak terhitung sudah landai abai atau waktu yang terus menguliti kebenaran lampau memisahkan semua halaman yang sudah terasa payau menghindari risau rindu dan rasio  bertemu pada satu pintu Kau; bunyi yang tak pernah meninggalkanku sunyi sepi yang masih percaya dan mendamba aku manusia puisi ketika hati sudah mati rebah dalam kalkulasi.   ya, satu lagi tapi kesekian babak, satu lagi lalu lagi dan lagi aku terkunci terbahak suaramu hingar bingar pasar malam aku ingin bermain, tak ingin pulang. telingamu; berbincang denganmu, menemukanku.