Langsung ke konten utama

Residu


Ada yang berputar-putar dalam pikirku
antara masih ada atau memang masih ada?
untuk hari ini dan setiap batas waktu temu
aku mengenang, tenggelam pada rona wajahmu
ku kira aku telah menang dalam pergulatan rindu
aku membiru keliru, berperang dan menjegal;
adalah sebuah usaha menepikan tinggalmu 
lalu apa kemudian?

ribuan hari aku berdendang sendiri 
dalam rehat akan penat, kau datang sebagai rumah
padahal itu ilusi memori lampau yang sudah jadi remah; 
melarutkan jelaga amarah dan residu rindu yang sisa

apa yang salah? siapa yang kalah?
waktu dan rahasia restu semesta?
ataukah malam yang telah larut 
sementara kau terus bergejolak di tengah jantung?
sambil merayu-rayu semesta; aku dan diammu
menikmatimu; merasakan semilir angin di sela-sela jariku.
lalu memetakan wajahmu di setiap sudut ingatan
kita belum benar-benar sia-sia, tuan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.