Langsung ke konten utama

jika



jauh kepergianmu melenggang dalam kepahitan 
dan aku masih menghidu aroma rindu
tetapi simalakama masih kekeuh merajam temu

jika dan hanya jika masih menjadi repetisi.
terus merindu dengan tak tahu diri
terus mencoba merayu-rayu pemilik semesta


antara waktunya dan waktu-ku
terasa begitu jauh dari langit sampai bumi
maaf karena aku telah mencintainya. 


aku tak siap perihal kehilangannya
sebegini nyeri tertinggal
melihat punggungnya semakin jauh dari tatap 


Punggungmu, punggungnya
saling membelakangi 
terhadap batas yang terbentang

sejauh apapun dia selalu abadi
dalam setiap bait puisi pilu
dalam setiap hela napas rindu
dalam setiap untaian doaku 


Malam- malam tanpanya
malam tanpa jeda harap 
sudikah dia memahami ? 
sebab aku telah lalai mengoyak rindu;
lalu lancang menjahitnya 
sebagai cinta satu-satunya.

-yvn


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.