Langit malam menyeringai.
Jalan kota penuh lubang menganga.
Sudahkah kita saling merindukan hari ini?
Sepeninggal gelap malam.
Tak ubahnya luka kemunafikan paling mengoyak.
Adalah kebahagiaan memiliki kehilangan.
Entah apa yang hilang?
Kekosongan berirama kecemasan;
Yang merindukan bahu sandaran.
Sebanyak doa yang telah dinaikan.
Lalu seka segera air mata mu!
Sebelum menangis sejadi-jadinya.
Biarlah pilumu menjadi sendi dan berdirilah.
Penat berjelontor kemana-mana.
Meringis tiada berhenti, tak terbilang berapa kali tersedu-sedu;
Jatuh di atas tanah anarki.
Pulanglah.
Rebalah sebentar dalam aksara yang semestinya.
Sebab kamu berpijak diatas bumi yang tetap berotasi pada porosnya; bagaimanapun.
Komentar
Posting Komentar