Langsung ke konten utama

Kesetiaan sajak

Langit malam menyeringai.
Jalan kota penuh lubang menganga.
Sudahkah kita saling merindukan hari ini?

Sepeninggal gelap malam.
Tak ubahnya luka kemunafikan paling mengoyak.
Adalah kebahagiaan memiliki kehilangan.
Entah apa yang hilang?
Kekosongan berirama kecemasan;
Yang merindukan bahu sandaran.
Sebanyak doa yang telah dinaikan.
Lalu seka segera air mata mu!
Sebelum menangis sejadi-jadinya.
Biarlah pilumu menjadi sendi dan berdirilah.
Penat berjelontor kemana-mana.
Meringis tiada berhenti, tak terbilang berapa kali tersedu-sedu;
Jatuh di atas tanah anarki.
Pulanglah.
Rebalah sebentar dalam aksara yang semestinya.
Sebab kamu berpijak diatas bumi yang tetap berotasi pada porosnya; bagaimanapun.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.