Langsung ke konten utama

Kehilangan.

Pergi kesana, ada disini.
Sebelum angin bertiup kencang;
Mampirlah untuk sekedar bersua dengan sang penunggu.
Perihal mencinta, tak pernah ku agendakan.
Sepanjang doa dan napas yang terjadi begitu saja.

Kau adalah candu.
Memiliki bukan pasti;
Namun kehilanganmu mematahkan sajak-sajak hidupku.

Rindu mungkin berkelana menuju entahlah.
Dan kembali menemukan pulangnya; disini.
Terus tersamar dalam rinai hujan.
Saat malam masih begitu gugup untuk berita kehilangan.

Dari sini menuju ketiadaan; pergilah.
Pergilah untuk sejauh-jauhnya!
Bila ternyata jalanmu adalah kepadaku;
Selalu ku tunggu hari itu; tanpa meragu.
Dari semua kehilangan yang datang.
Puisi adalah satu-satunya cinta yang membunuh kesendirian.
Pada isak yang tertahan di pelupuk mata; merasuk dada.
Tak pernah percuma dan sesal menertawakan cintaku.
Sebab mencintamu adalah upaya ku untuk terus berjalan;
Tanpa tendesi, tanpa percuma.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.