Pergi kesana, ada disini.
Sebelum angin bertiup kencang;
Mampirlah untuk sekedar bersua dengan sang penunggu.
Perihal mencinta, tak pernah ku agendakan.
Sepanjang doa dan napas yang terjadi begitu saja.
Kau adalah candu.
Memiliki bukan pasti;
Namun kehilanganmu mematahkan sajak-sajak hidupku.
Rindu mungkin berkelana menuju entahlah.
Dan kembali menemukan pulangnya; disini.
Terus tersamar dalam rinai hujan.
Saat malam masih begitu gugup untuk berita kehilangan.
Dari sini menuju ketiadaan; pergilah.
Pergilah untuk sejauh-jauhnya!
Bila ternyata jalanmu adalah kepadaku;
Selalu ku tunggu hari itu; tanpa meragu.
Dari semua kehilangan yang datang.
Puisi adalah satu-satunya cinta yang membunuh kesendirian.
Pada isak yang tertahan di pelupuk mata; merasuk dada.
Tak pernah percuma dan sesal menertawakan cintaku.
Sebab mencintamu adalah upaya ku untuk terus berjalan;
Tanpa tendesi, tanpa percuma.
Sebelum angin bertiup kencang;
Mampirlah untuk sekedar bersua dengan sang penunggu.
Perihal mencinta, tak pernah ku agendakan.
Sepanjang doa dan napas yang terjadi begitu saja.
Kau adalah candu.
Memiliki bukan pasti;
Namun kehilanganmu mematahkan sajak-sajak hidupku.
Rindu mungkin berkelana menuju entahlah.
Dan kembali menemukan pulangnya; disini.
Terus tersamar dalam rinai hujan.
Saat malam masih begitu gugup untuk berita kehilangan.
Dari sini menuju ketiadaan; pergilah.
Pergilah untuk sejauh-jauhnya!
Bila ternyata jalanmu adalah kepadaku;
Selalu ku tunggu hari itu; tanpa meragu.
Dari semua kehilangan yang datang.
Puisi adalah satu-satunya cinta yang membunuh kesendirian.
Pada isak yang tertahan di pelupuk mata; merasuk dada.
Tak pernah percuma dan sesal menertawakan cintaku.
Sebab mencintamu adalah upaya ku untuk terus berjalan;
Tanpa tendesi, tanpa percuma.
Komentar
Posting Komentar