Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Kehilangan.

Pergi kesana, ada disini. Sebelum angin bertiup kencang; Mampirlah untuk sekedar bersua dengan sang penunggu. Perihal mencinta, tak pernah ku agendakan. Sepanjang doa dan napas yang terjadi begitu saja. Kau adalah candu. Memiliki bukan pasti; Namun kehilanganmu mematahkan sajak-sajak hidupku. Rindu mungkin berkelana menuju entahlah. Dan kembali menemukan pulangnya; disini. Terus tersamar dalam rinai hujan. Saat malam masih begitu gugup untuk berita kehilangan. Dari sini menuju ketiadaan; pergilah. Pergilah untuk sejauh-jauhnya! Bila ternyata jalanmu adalah kepadaku; Selalu ku tunggu hari itu; tanpa meragu. Dari semua kehilangan yang datang. Puisi adalah satu-satunya cinta yang membunuh kesendirian. Pada isak yang tertahan di pelupuk mata; merasuk dada. Tak pernah percuma dan sesal menertawakan cintaku. Sebab mencintamu adalah upaya ku untuk terus berjalan; Tanpa tendesi, tanpa percuma.

Kesetiaan sajak

Langit malam menyeringai. Jalan kota penuh lubang menganga. Sudahkah kita saling merindukan hari ini? Sepeninggal gelap malam. Tak ubahnya luka kemunafikan paling mengoyak. Adalah kebahagiaan memiliki kehilangan. Entah apa yang hilang? Kekosongan berirama kecemasan; Yang merindukan bahu sandaran. Sebanyak doa yang telah dinaikan. Lalu seka segera air mata mu! Sebelum menangis sejadi-jadinya. Biarlah pilumu menjadi sendi dan berdirilah. Penat berjelontor kemana-mana. Meringis tiada berhenti, tak terbilang berapa kali tersedu-sedu; Jatuh di atas tanah anarki. Pulanglah. Rebalah sebentar dalam aksara yang semestinya. Sebab kamu berpijak diatas bumi yang tetap berotasi pada porosnya; bagaimanapun.