Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

was you.

Pagi kita takkan serupa lagi, tak seperti kemarin, Tanpa percakapan hangat menyambut sang empunya siang. Malam mencekam seperti memberi isyarat sepi menyeriangiku. Seakan duniaku hitam pekat. Ini apa? Bahkan hari ini hujan turun ditengah teriknya sang matahari. Seakan kejadian ini sudah dapat diprediksi. I can't fight back my tears, i just can't face the truth. Kau, seseorang.  Seseorang seperti engkau. sosok yang selalu membuat hariku penuh tawa. Seseorang yang mempunyai 1000 cerita humor, dengan sabarnya kamu berkisah hingga membuat pipiku letih untuk mengembang. Kamu, seseorang yang sabar, betapapun panjang lebar dan tingginya kesabaranmu menghadapi kerasnya kepalaku. Seseorang yang mampu meredakan amarah dan sifat egosentrisku. Kamu, seorang laki - laki sederhana begitu sempurna menghampiri kekacauan hidupku. Menggeser kerasnya idealisme diri, meruntuhkan kerasnya prinsipku tentang hidup. Seseorang yang mengajariku bahwa jangan terlalu...

manusia pertama

pada suatu malam dari semua malam yang kita lewati; kau mengajakku untuk mengawali sebuah akhir yang baru sambil menerawang sang penguasa malam kau berirama dalam sajak perpisahan yang begitu pahit. dengan tergugu kau berucap "mari sama-sama memulai untuk saling melupakan". Demikian lisan terakhir-mu untuk aku. demikianlah kau mengakhiri kita. bahagiaku selalu kau. aku coba menerka perihal rahasia yang begitu menganggu aku dapati diri makin tersesat mencintai-mu. manusia pertama yang aku eja namanya sebagai cinta pertama. lubang hitam kenangan seolah menyedot aku masuk melarutkan aku pada beberapa bekas temu yang terus merayu jangan kau jadikan aku seorang teman pertemuan yang begitu dangkal sebab kita terlalu dalam untuk sebuah akhir tanpa penjelasan. bersama senja kala itu kau berorasi pada semesta meminta perkenaanku untuk hanya bersamamu menjejaki ratusan purnama untuk semua kisah kita yang telah lewat aku masih ingin menunggu rajuk pulangmu. -y...

Sepenggal Catatan Hati Si-Perindu Ulung

T erlanjur terbingkai senyummu dalam pigura paling sepi puisi-puisiku, agar malam tak menjadi malam saja, malam ini adalah malam mengenangmu, merindu lebih banyak---lagi. Kepalaku masih penuh dengan kamu, disini bak semesta kata berputar-putar tak beraturan membentuk pola tak terhingga dan kau masih menjadi tema yang selalu ingin ku tuliskan. Aku selalu menyisipkan nama mu dalam setiap amin dan semoga, meski tak kunjung ku lihat jawaban menyejukkan.  Kita,   ya aku dan kau memang harus saling belajar menghemat rindu yang begitu menimbun setiap resah   yang mengikis kenyataan kau tak disampingku, seperti mengendapkannya hanya dalam mimpi.  Pada tiap derai air hujan yang begitu deras membasahi kota, pernah tergenggam bersama sebuah janji berirama melankolia pun hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sedang rindu. Mendung melarung mendung di ujung mata kita, cemas menjelma menjadi gerimis. Aku mengasihimu dalam diamnya bumi ketika diterjang derai t...