Langsung ke konten utama

manusia pertama


pada suatu malam dari semua malam yang kita lewati;
kau mengajakku untuk mengawali sebuah akhir yang baru
sambil menerawang sang penguasa malam
kau berirama dalam sajak perpisahan yang begitu pahit.
dengan tergugu kau berucap
"mari sama-sama memulai untuk saling melupakan".

Demikian lisan terakhir-mu untuk aku.
demikianlah kau mengakhiri kita.

bahagiaku selalu kau.
aku coba menerka perihal rahasia yang begitu menganggu
aku dapati diri makin tersesat mencintai-mu.
manusia pertama yang aku eja namanya sebagai cinta pertama.
lubang hitam kenangan seolah menyedot aku masuk
melarutkan aku pada beberapa bekas temu yang terus merayu

jangan kau jadikan aku seorang teman pertemuan yang begitu dangkal
sebab kita terlalu dalam untuk sebuah akhir tanpa penjelasan.

bersama senja kala itu kau berorasi pada semesta
meminta perkenaanku untuk hanya bersamamu menjejaki ratusan purnama
untuk semua kisah kita yang telah lewat
aku masih ingin menunggu rajuk pulangmu.


-yvn




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.