Keputusanmu
adalah kebahagiaan yang kau pilih,
seakan semua yang pernah terjadi tak pernah kau rasa. Masihkah ada secuil
kepingan kenangan tentang kita yang kaurasakan. Begitu mudahnya kau
menghempasnya setelah kau tanam cinta yang telah tumbuh subur menjalar dan
rusak begitu saja.
Hilang, terasa
ada bagian dari ku yang hilang, ngilu semua sendi – sendi kerinduan.
Seberapa tabahkah hati ini menerima kenyataan yang begitu egoisnya. Kata orang "lupakanlah dia!"
Bukankah sudah kulakukan bertahun-tahun mencoba melupakan menyangsingkan apa yang terus ada dibenak, menipu semua rindu-rindu membuat ngilu.
Seberapa tabahkah hati ini menerima kenyataan yang begitu egoisnya. Kata orang "lupakanlah dia!"
Bukankah sudah kulakukan bertahun-tahun mencoba melupakan menyangsingkan apa yang terus ada dibenak, menipu semua rindu-rindu membuat ngilu.
Semua hiruk
pikuk kesibukan berhasil menepikanmu untuk sementara, ku kira berhasil. Tak
kusangka bak sesuatu yang membawaku ke lubang gravitasi tertarik kembali untuk
mengingatmu terus
Every single moment that i’ve remind definetely when the stars comes surrounded the night romantically and when the rain comes stream down from sky makes everything wet and freshed. Both of them would be like us, never and ever could appear together in one time.
Sungguh aku tak mau jatuh dalam gravitasi yang membuat ku seolah-olah mencintai sebuah fatamorgana imaginasi gila yang membuat semakin sakit.
Every single moment that i’ve remind definetely when the stars comes surrounded the night romantically and when the rain comes stream down from sky makes everything wet and freshed. Both of them would be like us, never and ever could appear together in one time.
Sungguh aku tak mau jatuh dalam gravitasi yang membuat ku seolah-olah mencintai sebuah fatamorgana imaginasi gila yang membuat semakin sakit.
Kenapa sesakit
ini? Dari awal kita bertemu tak ku kira kau akan menjadi satu-satunya orang yang
akan kucintai sebegini dalam.
Beberapa tahun ini sudah kulihat kau begitu bahagia bersamanya.
Otak mengirim sinyal tak mampu berkompensasi lagi dengan hati yang selalu menanti sebuah ketidakmungkinan.
Beberapa tahun ini sudah kulihat kau begitu bahagia bersamanya.
Otak mengirim sinyal tak mampu berkompensasi lagi dengan hati yang selalu menanti sebuah ketidakmungkinan.
Masih membara,
masih tersimpan bahkan senyum awal kita berjumpa di masa putih abu, masih
ingatkah kita bertemu karena sebuah kebetulan kekonyolan masa remaja?
Apa arti dari
semua ini mencintai orang yang sama yang bahkan mungkin sudah lupa nama
kita? Mengapa semua yang datang bersaksi
bahwa cinta yang terbawa tulus apa adanya namun tak kurasakan seperti saat kau
memintaku menjadi bagian penting dalam hidupmu?
Mereka tulus?
Waktu telah
menjawab mereka hanya datang memuaskan rasa penasaran, tak ada ketulusan
apalagi cinta yang kuidam-idamkan. Mengapa tak seindah dan sehangat dulu?
Mereka bilang
aku pemilih yang begitu pemilih, hidup dalam kesepian yang mencekam. But what they know? mereka tak pernah lihat
usahaku jatuh bangun dengan semua rindu yang menggebu, seperti berusaha
menjaring angin, seperti mengingat seseorang yang belum pernah kukenal
sebelumnya itulah kira-kira jawabku ketika kenyataan bertanya mengapa tak bisa
berpindah.
Pelan-pelan saja pun tak bisa? Nurani yang begitu polos hingga ketika orang membisik nama mu saja semua kenangan, semua tentang dirimu keluar seperti air terjun dengan begitu deras dan kuat menghempas semua usaha dan segala daya melupakan laki-lakiku. Ah bukan lagi laki-lakiku.
Pelan-pelan saja pun tak bisa? Nurani yang begitu polos hingga ketika orang membisik nama mu saja semua kenangan, semua tentang dirimu keluar seperti air terjun dengan begitu deras dan kuat menghempas semua usaha dan segala daya melupakan laki-lakiku. Ah bukan lagi laki-lakiku.
Semuanya
mengolok sebisa mereka mengapa aku terus hidup dalam masa lalu yang begitu
merusak apa yang ada sekarang dan mungkin nanti. Tapi tahu apa mereka ? hidupku
sebegini saja, aku memilih hidup apa adanya tak mau lagi memaksakan kehendak,
memaksa jiwa yang terus berteriak menyuruh ku berhenti membohongi diriku dengan
pura-pura mencintai orang lain yang tersakiti pada akhir cerita.
Sampai kapanpun aku
terus hidup mencundangi hatiku sendiri. Hei hatiku, bukankah kita berhak
bahagia?
Sudah cukup otak
kau berikan tekanan untuk terus mengingat mengenang seseorang bak pungguk
merindukan rembulan.
Sudah cukup kau
buat mata tersiksa dengan sakit karena air mata mengalir pasrah tanpa ada kata.
Sudah cukup kau
buat kaki dan tangan ini tanpa koordinasi berjalan dan melakukan hal yang
menjadi kenangan masa lalu, semua anggota tubuh ingin kau berhenti mengapa kau
tetap menunggu? Menunggu salju turun di gurun?
Tubuhku meminta
berhenti, namun hati tak juga letih.
Mencoba
melepaskan. Kuteriakan namamu yang kembali menggema masuk kedalam lagi yang
kudapat hanya berkaca-kaca mataku, kuteriakan tanpa lelah pada telinga hujan
dan terus kembali atau
tetap kenangan!
Cinta membuat ku
keras kepala menikmati rindu yang menyilukan tulang meski tak ditakdirkan
bersama aku tetap meminta hal yang sama.
Komentar
Posting Komentar