Langsung ke konten utama

Kebodohan yang dinikmati [orang bilang]


Lama sudah tak kulihat dia yang  pernah membuat ku merasa sempurna, ketika bisikan mimpi baru menyentil logika semua terasa tak berarti.

Keputusanmu adalah kebahagiaan yang kau pilih, seakan semua yang pernah terjadi tak pernah kau rasa. Masihkah ada secuil kepingan kenangan tentang kita yang kaurasakan. Begitu mudahnya kau menghempasnya setelah kau tanam cinta yang telah tumbuh subur menjalar dan rusak begitu saja.

Hilang, terasa ada bagian dari ku yang hilang, ngilu semua sendi – sendi kerinduan.
Seberapa tabahkah hati ini menerima kenyataan yang begitu egoisnya. Kata orang "lupakanlah dia!"
Bukankah sudah kulakukan bertahun-tahun mencoba melupakan menyangsingkan apa yang terus ada dibenak, menipu semua rindu-rindu membuat ngilu.

Semua hiruk pikuk kesibukan berhasil menepikanmu untuk sementara, ku kira berhasil. Tak kusangka bak sesuatu yang membawaku ke lubang gravitasi tertarik kembali untuk mengingatmu terus
Every single moment that i’ve remind definetely when the stars comes surrounded the night romantically and when the rain comes stream down from sky makes everything wet and freshed. Both of them would be like us, never and ever could appear together in one time
Sungguh aku tak mau jatuh dalam gravitasi yang membuat ku seolah-olah mencintai sebuah fatamorgana imaginasi gila yang membuat semakin sakit.

Kenapa sesakit ini? Dari awal kita bertemu tak ku kira kau akan menjadi satu-satunya orang yang akan kucintai sebegini dalam. 
Beberapa tahun ini sudah kulihat kau begitu bahagia bersamanya. 
Otak mengirim sinyal tak mampu berkompensasi lagi dengan hati yang selalu menanti sebuah ketidakmungkinan.

Masih membara, masih tersimpan bahkan senyum awal kita berjumpa di masa putih abu, masih ingatkah kita bertemu karena sebuah kebetulan kekonyolan masa remaja?

Apa arti dari semua ini mencintai orang yang sama yang bahkan mungkin sudah lupa nama kita?  Mengapa semua yang datang bersaksi bahwa cinta yang terbawa tulus apa adanya namun tak kurasakan seperti saat kau memintaku menjadi bagian penting dalam hidupmu?

Mereka tulus?

Waktu telah menjawab mereka hanya datang memuaskan rasa penasaran, tak ada ketulusan apalagi cinta yang kuidam-idamkan. Mengapa tak seindah dan sehangat dulu?

Mereka bilang aku pemilih yang begitu pemilih, hidup dalam kesepian yang mencekam. But what they know? mereka tak pernah lihat usahaku jatuh bangun dengan semua rindu yang menggebu, seperti berusaha menjaring angin, seperti mengingat seseorang yang belum pernah kukenal sebelumnya itulah kira-kira jawabku ketika kenyataan bertanya mengapa tak bisa berpindah. 
Pelan-pelan saja pun tak bisa? Nurani yang begitu polos hingga ketika orang membisik nama mu saja semua kenangan, semua tentang dirimu keluar seperti air terjun dengan begitu deras dan kuat menghempas semua usaha dan segala daya melupakan laki-lakiku. Ah bukan lagi laki-lakiku.

Semuanya mengolok sebisa mereka mengapa aku terus hidup dalam masa lalu yang begitu merusak apa yang ada sekarang dan mungkin nanti. Tapi tahu apa mereka ? hidupku sebegini saja, aku memilih hidup apa adanya tak mau lagi memaksakan kehendak, memaksa jiwa yang terus berteriak menyuruh ku berhenti membohongi diriku dengan pura-pura mencintai orang lain yang tersakiti pada akhir cerita.

Sampai kapanpun aku terus hidup mencundangi hatiku sendiri. Hei hatiku, bukankah kita berhak bahagia?

Sudah cukup otak kau berikan tekanan untuk terus mengingat mengenang seseorang bak pungguk merindukan rembulan.

Sudah cukup kau buat mata tersiksa dengan sakit karena air mata mengalir pasrah tanpa ada kata.

Sudah cukup kau buat kaki dan tangan ini tanpa koordinasi berjalan dan melakukan hal yang menjadi kenangan masa lalu, semua anggota tubuh ingin kau berhenti mengapa kau tetap menunggu? Menunggu salju turun di gurun?  

Tubuhku meminta berhenti, namun hati tak juga letih.
Mencoba melepaskan. Kuteriakan namamu yang kembali menggema masuk kedalam lagi yang kudapat hanya berkaca-kaca mataku, kuteriakan tanpa lelah pada telinga hujan dan terus kembali atau tetap kenangan!

Cinta membuat ku keras kepala menikmati rindu yang menyilukan tulang meski tak ditakdirkan bersama aku tetap meminta hal yang sama.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.