Lengkungan itu, lengkungan indah di wajah tirus itu.
Kamu, pemilik binar mata ramah yang membuat aku kikuk diluar kebiasaan.
Entah darimana datangnya, rasanya manis seperti cokelat yang biasa aku makan.
Dag dig dug..
Ini apa ?
Aku berpikir ini hanya respon biasa pada umumnya. Semua orang tersenyum.
Tapi, semakin di sangsikan semakin aku berharap itu lebih dari senyuman biasa.
Ego pun muncul mulai menggodaku untuk berharap lebih dari itu, "jika mungkin saja, jika mungkin saja terulang lagi moment itu...”
“...and actually you gotta so be mean to me.”
Momen yang kuharapkan ternyata terjadi.
Kamu tersenyum dengan lebarnya, aku semakin menyukai lengkungan itu, mungkin juga pemiliknya.
“halo..", kamu menyapaku. Aku rasa itu sapaan terindah dalam hidupku. Dan tak sadarpun kita terjebak dalam moment percakapan.
Ibaratkan aku saat itu seperti sebuah es krim yang lumer ketika di tabrak sang empuna siang,“Definetely i’m melted.”
Kamu, semesta alam terngiang dikepalaku , sang matahari yang membuat hidupku saat itu terasa hidup.
“ah sudah larut..”. Malamku seakan lebih panjang dari biasanya. Insomnia karena sebuah alasan.
Kembali mengenang dua moment terindah, seakan aku tak mau bersua ke pulau mimpiku. Pulau nyata ku lebih indah karena kamu tinggal disini.
“Ahhh.. sial.. namanya siapa tadi?” Aku bertengkar dengan pikiranku sendiri menyadari betapa bodohnya aku tidak mengingat namanya.
Aku tertidur tanpa sadar sambil mengingat kembali berulang-ulang berharap moment tersebut masuk kedalam alam bawah sadarku.
Berhari-hari aku lalui dengan rasa antusias yang berlebihan untuk pergi bersekolah.
Berharap melihatmu walau dari jauh, dari kerumunan akademika aku mampu melihat cahayamu.
“akulah orang yang kan selalu mengawasimu, menikmati indahmu dari sisi gelapku..”
Senandung lirik sheila on 7 seakan terjadi nyata dalam hidupku.
Seakan hari berpihak padaku, pertemuan secara tidak sengaja lagi. Kamu tersenyum lagi, lama. Menyapaku dengan basa-basi yang tidak akan pernah basi. Membangun keakraban yang kunanti – nanti seakan sudah 1000 tahun. “Ahh.. pria ini, terus melakukannya”.
Jantung berdetak 2 kali lebih cepat, sekujur tubuh di panas dingin ketika kamu mengumbar senyummu duluan. Itu bukan tanda sebuah penyakit tapi, “ah sudahlah... jangan-jangan aku sakit, sakit akibat jatuh dalam senyum yang kukira hanya dimiliki penghuni surga". Aku jatuh. Jatuh cinta.
Pada saat menuliskan ini pun, aku dan hatiku tersenyum. Aku bahagia. Aku bahagia meskipun aku dan kamu belum menjadi kita.
I know you. I walked with you once upon a dream, i’m happier with you .
Today was fairy tale, the gleam in your eyes is so familiar.
A smile that i think only heaven can make.
A smile.. you gotta so be mean, Once upon a dream...
∞
Komentar
Posting Komentar