Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Kebodohan yang dinikmati [orang bilang]

Lama sudah tak kulihat dia yang   pernah membuat ku merasa sempurna, ketika bisikan mimpi baru menyentil logika semua terasa tak berarti. Keputusanmu adalah kebahagiaan yang kau p i lih, seakan semua yang pernah terjadi tak pernah kau rasa. Masihkah ada secuil kepingan kenangan tentang kita yang kaurasakan. Begitu mudahnya kau menghempasnya setelah kau tanam cinta yang telah tumbuh subur menjalar dan rusak begitu saja. Hilang, terasa ada bagian dari ku yang hilang, ngilu semua sendi – sendi kerinduan. Seberapa tabahkah hati ini menerima kenyataan yang begitu egoisnya. Kata orang "lupakanlah dia!" Bukankah sudah kulakukan bertahun-tahun mencoba melupakan menyangsingkan apa yang terus ada dibenak, menipu semua rindu-rindu membuat ngilu. Semua hiruk pikuk kesibukan berhasil menepikanmu untuk sementara, ku kira berhasil. Tak kusangka bak sesuatu yang membawaku ke lubang gravitasi tertarik kembali untuk mengingatmu terus Every single moment that i’ve remind definete...

Kamu, nama lain dari rindu itu

Tentang rindu itu, rindu yang curang datang tanpa permisi, menyelinap diantara mimpi-mimpi. Rindu itu, cinta ini...menggebu, tak terungkap. Rindu yang datang seperti titik-titik hujan yang menusuk logika bahwa kau tak pernah bisa kumiliki. Aku tak menyesal, pernah menyukai, meri ndukanmu dengan semua rasa dan karsa yang aku kerahkan dan bahkan sampai sekarang rasa itu menjelma hidup dalam hari-hariku.. Masih kamu, hanya kamu.  Sampai saat ini, sampai saatnya nanti tidak senja, malam pagi atau tengah haripun hanya aku orang yang tidak akan menyesal mencintaimu, pun saat kenyataan adalah luka.  Rasa ini membuatku berani, tumbuh tanpa alasan kenapa bahkan kapanpun aku lupa. Aku hanya ingat bahwa tawa mu tanpa senjaga meninggalkan kesan yang bermutasi dengan cepat, melumpuhkan logika...  I’m not crazy, litlle bit crazy. Paralysed, its contagious and I can't help it! Kamu adalah ketidakmampuan yang selalu aku semogakan.  Meski telah ada dia yang menyempurnak...

Pemuja Rahasia

Kamu, pelengkap kegembiraan masa remajaku di sebuah institusi tempatku di didik. Lengkungan itu, lengkungan indah di wajah tirus itu. Kamu, pemilik binar mata ramah yang membuat aku kikuk diluar kebiasaan. Entah darimana datangnya, rasanya manis seperti cokelat yang biasa aku makan. Dag dig dug.. Ini apa ? Aku berpikir ini hanya respon biasa pada umumnya. Semua orang tersenyum.  Tapi, semakin di sangsikan semakin aku berharap itu lebih dari senyuman biasa. Ego pun muncul mulai menggodaku untuk berharap lebih dari itu, "jika mungkin saja, jika mungkin saja terulang lagi moment itu...” “...and actually you gotta so be mean to me.”    Momen yang kuharapkan ternyata terjadi. Kamu tersenyum dengan lebarnya, aku semakin menyukai lengkungan itu, mungkin juga pemiliknya. “halo..", kamu menyapaku. Aku rasa itu sapaan terindah dalam hidupku. Dan tak sadarpun kita terjebak dalam moment percakapan.  Ibaratkan aku saat itu seperti sebuah es krim yang lumer ketika d...

Perihal melupakan, perihal melumpuhkan.

Kau selalu terselip di kopiku yang tanpa gula atau langitku yang selalu hujan. Kau manis dan indah pada tempatnya. Jantung ini berdegup lebih cepat dari normal. Abstrak, meracuni pikiran. Ternyata masih sama. Masih kamu, tuan. Kekonyolan diawal jumpa tak kusadari berkemban g menjadi orang yang sangat berarti.  Kesekian kalinya, kau menjadi alasan bahagiaku; meredam amarah dalam masalah-masalah. More than words can say .  Kamu tahu aku ingin selalu tertidur lebih awal karena kamu hanya berada di ujung mimpiku. Kamu orang yang kusimpan di dalam benakku, kadang keluar merusak jam tidurku, padahal kita sudah sepakat kau hanyalah kenangan.  Banyak luka telah beriringan bersama kasih tak sampai ini, semenjak luka, semenjak rindu ku namai doa, aku tahu kehilangan tak lagi butuh air mata.  Aku hanya punya satu cara merindukanmu, dalam diam, dalam riuh doa yang kupanjatkan selalu kamu menjadi harapanku. Kamulah yang kuanganankan berdiri di pintu rindu, bagiku yan...