Langsung ke konten utama

ruang lara


kita kerap hadir, kita kerap mangkir

pada setiap sudut-sudut sepi paling puisi

berdua, —sepasang kita— 

saling menghidu tajamnya aroma perpisahan 

saling menyentuh raga yang akan jadi bayangan

saling memandang badai di pusaran netra

saling menghirup udara di ruang lara

lantas bagaimana? 

aku belum selesai berperkara mesra denganmu, tuan.

erat-erat kita berpegangan; menahan waktu sesaat saja agar tak cepat jadi besok

barangkali untuk hari ini saja, aku dibiarkan mendulang banyak rasa, lalu menyerap sebanyak apapun karsa sebelum pulang;

sebab petualangan besok harus kutanggung sendirian. 

sebelum rindu jadi abu, sebelum saling pergi dari batas tunggu

kita, bersama merayakan untuk merelakan

kita, menggenggam untuk meredam

kita, memeluk untuk memupuk

kita, mengecup untuk berkata sudah cukup.

selamanya? 

tak ada yang benar-benar selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.