kita kerap hadir, kita kerap mangkir pada setiap sudut-sudut sepi paling puisi berdua, —sepasang kita— saling menghidu tajamnya aroma perpisahan saling menyentuh raga yang akan jadi bayangan saling memandang badai di pusaran netra saling menghirup udara di ruang lara lantas bagaimana? aku belum selesai berperkara mesra denganmu, tuan. erat-erat kita berpegangan; menahan waktu sesaat saja agar tak cepat jadi besok barangkali untuk hari ini saja, aku dibiarkan mendulang banyak rasa, lalu menyerap sebanyak apapun karsa sebelum pulang; sebab petualangan besok harus kutanggung sendirian. sebelum rindu jadi abu, sebelum saling pergi dari batas tunggu kita, bersama merayakan untuk merelakan kita, menggenggam untuk meredam kita, memeluk untuk memupuk kita, mengecup untuk berkata sudah cukup. selamanya? tak ada yang benar-benar selamanya.