jangan kau tanya berapa kali aku merindu.
sebab jantung ini lebih dari lelah dalam sembilu
seperti candu ku nikmati setiap debaran yang kau propagandakan.
tuan kopi, barangkali jangan rindu juga yang kau pupus, padahal cinta sudah kian berjelaga.
langit malam yang kelam, aku mencintai kebisuanmu.
aku; terik siang yang memekikan telinga, menyuarakan hari di setiap dimensi;
aku mencintaimu bukan karena kau mencintaiku.
aku mencintaimu karena kau.-- dirimu.
kau membuat kejauhanmu begitu nampak indah; dekat melekat.
kau, seorang langit sunyi yang membuat aku jatuh tanpa sepatah katapun.
hingga aku tak tahu sedemikian dalam kejatuhanku. tak bersisa; runtuh.
kau dan aku bahkan tak lebih sejumput kenangan.
aku terjebak pada kenangan,
saat kita bukan lagi apa-apa.
bahkan dalam harap riuh cemas aku masih mendamba; kian getir melawan kenyataan.
Apa kabar pujaan hati?
masih-kah rindu akan aku mendapat tempat walau terbelakang?
semenjak laraku berbuah pedih, tetap ku selipkan amin, amin, amin dalam setiap semoga bahagia.
Untukmu, laki-laki yang aku gelari "yang dipertuan kekasih hidupku"
Komentar
Posting Komentar