Langsung ke konten utama

Sepenggal Catatan Hati Si-Perindu Ulung


Terlanjur terbingkai senyummu dalam pigura paling sepi puisi-puisiku, agar malam tak menjadi malam saja, malam ini adalah malam mengenangmu, merindu lebih banyak---lagi.

Kepalaku masih penuh dengan kamu, disini bak semesta kata berputar-putar tak beraturan membentuk pola tak terhingga dan kau masih menjadi tema yang selalu ingin ku tuliskan.

Aku selalu menyisipkan nama mu dalam setiap amin dan semoga, meski tak kunjung ku lihat jawaban menyejukkan. 

Kita,  ya aku dan kau memang harus saling belajar menghemat rindu yang begitu menimbun setiap resah  yang mengikis kenyataan kau tak disampingku, seperti mengendapkannya hanya dalam mimpi. 

Pada tiap derai air hujan yang begitu deras membasahi kota, pernah tergenggam bersama sebuah janji berirama melankolia pun hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sedang rindu. Mendung melarung mendung di ujung mata kita, cemas menjelma menjadi gerimis.

Aku mengasihimu dalam diamnya bumi ketika diterjang derai tajam hujan bulan januari, sehening malam pun aku menyapamu memanggilmu dalam geming berharap rindu ini berdenting.

Kita sepasang manusia tak sempurna lalu saling kait-mengait menjadi simpul istimewa mengisi kekosongan menjadi kesempurnaan milik kita sendiri.

Kita adalah sepasang perindu yang sama – sama saling menunggu siapa yang mau bertegur sapa terlebih dahulu.

Selain menjadi suaka bagi pengungsian pikiran. Kamu adalah galaksi alam raya sumber inspirasi bertiada.

Jika pada akhirnya segala tahun-tahun yang telah sabar bertabah menemaniku mencintaimu pun enyah, meledak segala amarah, menghancurkan segala rindu, bahwa sekeras-kerasnya aku berpikir kamulah bagian terindah dalam dua dekade kehidupanku. What i am supposed to do when the best part of me was always you?

Terlalu banyak kamu di dalam pikiran ini, seperti malam yang lupa akan matahari aku pun sama terhanyut dalam pesona mu tak pernah bertepi. 

Satu pelajaran dari hujan yang selalu aku sukai bahwa mencintaimu bisa jatuh berkali-kali, dapatkah kamu menghitungnya ? dapatkah kamu merasakan ketabahan bumi yang begitu ikhlas.

Tawa khas yang memesona, menyeka segala duka, tawamu candu yang tak bisa ku tepiskan sehebat-hebatnya logika memperhitungkan. 

Ini tertulis ketika hujan itu. Masih ingat ? saat kepala begitu basah digenang kerinduan. Berbunyi: Nantikan aku dibatas tunggu, rindu terlalu menghujam dengan sembilu kesepian.

Hujan ini, ini hujan, ini hanya repetisi untuk mencintaimu berkali. Lagi dan lagi.
Ada yang ditinggalkan ini hujan, hujan ini, setetes nyeri dalam derai rindu, sebait sepi puisi tentang kamu.

Biar saja aku masih dapat membilang namamu dalam doa berkali-kali semoga Sang Pencipta tak jenuh mendengar betapa banyaknya itu ku perbincangkan. Segenapku, mengasihi ganjilmu. Seluruh, utuh.

Cinta itu sederhana. Sederhana debaran terakhir yang tetap kuat menggebu tak lekang waktu meski maut sudah menjelang. Adalah cinta yang membuatmu tersenyum pun betapapun letihnya.

Aku mencintamu bagaikan dunia tanpa koma meski musim berganti rupa.


                                     
23-01/14---YVN

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Finest

we’re hiding, wishing, then waiting; for the bleeding we can’t stop. every tear we fail to fight, falls again, and won’t give up. all these years, my eyes have known no one else but you alone. i know — we both know — we weren’t meant for each other. maybe in another world we will collide again, maybe then you’ll love me right or maybe I will unlove you once our eyes find each other year by year, I couldn’t be shaken — all my days, I loved you the most, until it hurt so good. night after night, i whisper a prayer for your sake. through silence, storm, or endless skies, through gentle dawn or shadowed gray, even when your eyes forget my face, and time rewrites our yesterday — i will love you, either way. where laughter and pain entwine, you were the poem I couldn’t finish, the love I once called mine. ’cause I love you — either way.