Aku; rumpang yang bersorak sorai dalam lara padahal sedang meramu badai dari orang kepada orang tak terhitung sudah landai abai atau waktu yang terus menguliti kebenaran lampau memisahkan semua halaman yang sudah terasa payau menghindari risau rindu dan rasio bertemu pada satu pintu Kau; bunyi yang tak pernah meninggalkanku sunyi sepi yang masih percaya dan mendamba aku manusia puisi ketika hati sudah mati rebah dalam kalkulasi. ya, satu lagi tapi kesekian babak, satu lagi lalu lagi dan lagi aku terkunci terbahak suaramu hingar bingar pasar malam aku ingin bermain, tak ingin pulang. telingamu; berbincang denganmu, menemukanku.