Gemercik rindu membasahi kepalaku Tetes pertetesnya adalah sembilu ngilu Di malam yang sedang bergulir Kursi berganti penghuni; Kopi telah berpindah ke cangkir lain; Dan, kau masih pada halaman yang sama. Tak perlu kau bertanya, mengapa; Sebab hanya pekat jelaga yang paham Mengapa masih ada residu rasa yang mendulang rindu berwindu-windu. Kau dan kisah kesekian ribu. Takdir, nadirku, hadirmu; Puisi dan kopi hitamku; Kau dan aku; Seperti tercipta untuk saling mencinta, lalu saling meniadakan tanpa berita. -yvn