T erlanjur terbingkai senyummu dalam pigura paling sepi puisi-puisiku, agar malam tak menjadi malam saja, malam ini adalah malam mengenangmu, merindu lebih banyak---lagi. Kepalaku masih penuh dengan kamu, disini bak semesta kata berputar-putar tak beraturan membentuk pola tak terhingga dan kau masih menjadi tema yang selalu ingin ku tuliskan. Aku selalu menyisipkan nama mu dalam setiap amin dan semoga, meski tak kunjung ku lihat jawaban menyejukkan. Kita, ya aku dan kau memang harus saling belajar menghemat rindu yang begitu menimbun setiap resah yang mengikis kenyataan kau tak disampingku, seperti mengendapkannya hanya dalam mimpi. Pada tiap derai air hujan yang begitu deras membasahi kota, pernah tergenggam bersama sebuah janji berirama melankolia pun hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sedang rindu. Mendung melarung mendung di ujung mata kita, cemas menjelma menjadi gerimis. Aku mengasihimu dalam diamnya bumi ketika diterjang derai t...